Tips Halal Menetap di Negara Non Muslim

0
321

 

HALALCORNER.ID, BEKASI — Menetap di luar negeri merupakan hal yang menantang dan menjadi impian sebagian orang, baik untuk urusan bisnis, tugas kedutaan, delegasi dakwah, keperluan studi, maupun untuk sekedar liburan.
Namun begitu, bagaimana jika negara tujuan adalah negara Non Muslim? Hmmm, tentunya akan sedikit rumit ya, mengingat berbagai hal dapat bersinggungan dengan aqidah kita.
Kali ini, kita coba ulas lebih dalam untuk bisa menjaga asupan halal jika harus menetap di negara Non Muslim.

1. Pelajari Negara Tujuan
Sangat disarankan untuk mencari informasi gaya hidup dan makanan keseharian penduduk setempat. Supaya siap mental mengenai perbedaan suplai makanan di negara tujuan dan paham mana yang halal kita konsumsi maupun yang haram.

2. Direktori Halal
Segera cari lembaga Direktori Halal dan unduh aplikasinya untuk memudahkan kita mencari produk halal, restoran, kafe, toko kue, bahkan hotel. Lebih baik lagi jika lembaga atau organisasi halal tersebut diakui oleh LPPOM MUI. Cek di www.halalmui.org (Daftar Badan Sertifikasi Halal Asing yang Disetujui).

3. Melatih Kejelian Mata
Sempatkan waktu ekstra untuk menyisir deretan produk yang dipajang di supermarket. Di negara Non Muslim biasanya label halal dicantumkan di bagian belakang kemasan produk. Bila kiranya tidak ada label halal, cari informasi komposisi produk tersebut, kemudian telusuri titik kritis halalnya, seperti karbon aktif, pengemulsi, gelatin, dan lainnya.

4. Jangan Tergiur
Tak jarang banyak restoran maupun supermarket menawarkan promosi menarik, terlihat higienis, mendapat penghargaan, peringkat tinggi, atau menyatakan produknya organik, kosher (hukum syariat makanan untuk kaum Yahudi), vegetarian, tapi belum tentu berstatus halal. Jangan tergiur ya, seorang Muslim sudah punya kiblat gaya hidup yang tidak kalah maju kok, yaitu halalan thoyyiban.

5. Perbedaan Kebijakan Perusahaan
Produk yang halal di Indonesia, belum tentu halal di negara lain karena pertimbangan target pasar dan bedanya lokasi pabrik. Oleh karena itu, kita bisa cek website produk favorit di negara setempat atau bisa email layanan pelanggan untuk menanyakan status halalnya.

6. Bersahabat dengan Muslimin
Selain saling menguatkan di negara orang, fadhilah berkumpul dengan sahabat-sahabat Muslim juga sangat besar. Tentunya bisa berbagi informasi produk maupun restoran halal, maupun tempat nge-hits yang cocok untuk kita.

7. Jika Terdesak
Jika kita benar-benar kerepotan mendapat produk berlabel halal, segera incar produk yang masuk ke daftar positif, misalnya beras, buah, umbi-umbian, dan sayur.
Jika status hewan ternak meragukan apakah disembelih dengan membaca Bismillah atau tidak, lebih baik memilih ke pasar ikan yang khusus menjual makanan laut. Adapun sembelihan ahli kitab juga halal dikonsumsi jika tidak untuk ritual ibadah mereka.
Hindari juga produk yang makin panjang proses pembuatannya karena kita tidak tahu teknologi pangan yang digunakan halal atau tidak, pilihlah produk bahan baku dengan komposisi 100% produk yang diminati, misalnya 100% durum gandum, 100% biji kopi giling.

8. Saatnya Bersih-bersih
Ketika menyewa rumah maupun apartemen dengan perabotan rumah lengkap, kita tidak tahu bagaimana gaya hidup penghuni sebelumnya. Oleh karena itu, jaga kehati-hatian dengan membersihkan area dapur secara rinci seperti oven, mesin pencuci piring, maupun alat masak dan alat makan dari kemungkinan najis dari bahan makanan seperti babi.

9. Jangan Lupa Bekal Andalanmu
Kemungkinan besar makanan favorit kita tidak terdapat di negara tujuan lho, misal pun ada, bisa jadi belum berstatus halal. Membawa makanan kemasan, kudapan, atau bumbu lokal bisa jadi ide yang cemerlang. Namun, jangan lupa cek kebijakan imigrasi negara tujuan ya, supaya tidak ada yang terbuang.

10. Lebih Kritis
Kasus restoran yang asal mencantumkan label halal untuk mengejar keuntungan juga harus diwaspadai. Maka diperhatikan juga apakah ada kemungkinan produk haram atau adanya kontaminasi produk haram dari proses masak dan penyajian.
Kita bisa tes dengan pertanyaan, apakah menyediakan makanan yang mengandung haram dengan bahasa setempat, misalnya bacon, lard, pork, atau khinzir. Paling mudah, hindari restoran yang mengaku halal tapi menjual khamr atau minuman beralkohol, karena jelas mereka tidak memahami apa itu halal.
Nah, ketika kehalalan makanan sudah diperhatikan, aspek kehalalan produk non-makanan juga perlu dipertimbangkan lho. Antara lain seperti produk kecantikan, alat masak, produk berbahan kulit binatang, maupun produk sikat berbulu binatang yang kemungkinan dari bulu babi. Wallahu a’lam bishshawab. (she/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + eleven =